Tampilkan postingan dengan label Keperawatan Maternitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keperawatan Maternitas. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Januari 2012

Fisiologi Menstruasi | Menstruasi

A. Fisiologi Menstruasi

a. Definisi
Menstruasi adalah perdarahan dari uterus yang disertai pelepasan atau deskuamasi endometrium yang terjadi secara periodik (Wiknjosastro dkk, 2007). Menstruasi disebabkan oleh berkurangnya estrogen dan progesteron, pada akhir siklus ovarium. Hal tersebut menyebabkan beberapa efek yaitu penurunan rangsang terhadap sel-sel endometrium (Guyton and Hall, 2008). 
b. Perubahan hormonal pada siklus menstruasi
Perubahan hormonal siklik mengawali dan mengatur fungsi ovarium  dan perubahan endometrium. Pusat pengendalian hormon dari sistem reproduksi adalah hipotalamus. Hipotalamus mengasilkan  Follicle Stimulating Hormon Releasing Hormon (FSHRH)  dan Luteinizing Hormon Releasing Hormon (LHRH) yang merangsang hipofisis anterior  Untuk menyekresi Follicle Stimulating Hormon (FSH) dan Luteinizing Hormon (LH). Sekresi FSH dan LH menyebabkan produksi estrogen dan progesteron oleh ovarium, keadaan tersebut menyebabkan perubahan fisiologik pada uterus, juga mempengaruhi siklus menstruasi dan siklus endometrium (Schteingart, 2007).
c. Siklus menstruasi
Siklus menstruasi berlangsung sekitar 15-45 hari, dengan rata-rata 28 hari. Pada siklus menstruasi terdapat siklus ovarium dan siklus endometrium. Siklus ovarium terbagi menjadi dua fase, yaitu :
1) Fase folikular
Setelah terjadi pelepasan endometrium, maka FSH merangsang pertumbuhan beberapa folikel primordial dalam ovarium. Biasanya hanya satu folikel yang berkembang menjadi folikel deGraaf, sedangkan yang lainnya mengalami degenerasi. Folikel tersebut Nterdiri dari sebuah ovum dan dua lapisan sel yang mengelilingi. Lapisan bagian dalam terdapat sel granulosa yang menyintesis progesteron untuk disekresikan ke dalam cairan folikular pada paruh pertema siklus menstruasi. Fungsi progesteron sebagai prekursor sintesis estrogen oleh lapisan sel teka interna. Dalam folikel deGraaf oosit primer mengalami proses pematangan. Pada fase ini disekresikan estrogen dalam jumlah besar. Kadar estrogen yang meningkat menyebabkan pelepasan LHRH melalui mekanisme umpan balik positif.
2) Fase luteal
Pada fase ini jumlah LH meningkat yang kemudian merangsang
ovulasi dari oosit yang matang. Kemudian oosit terlepas dari folikel deGraaf. Lapisan granulosa yang banyak mengandung pembuluh darah pada folikel deGraaf mengalami luteinisasi menjadi korpus luteum yang berwarna kuning pada ovarium. Korpus luteum menyekresi estrogen dan progesteron yang makin lama makin meningkat jumlahnya (Hillegas, 2007).
Terdapat perubahan histologik pada endometrium dalam siklus menstruasi yang dapat dibagi menjadi empat fase endometrium, yaitu :
1) Fase menstruasi atau deskuamasi
Dalam fase ini endometrium dilepaskan dari dinding uterus disertai
perdarahan, hanya stratum basale endometrium yang tertinggal. Fase ini berlangsung selama empat hari.
2) Fase pascamenstruasi atau fase regenerasi                                                              Luka pada endometrium yang terjadi akibat deskuamasi berangsur - angsur sembuh dan ditutp oleh selaput lendir dari sel-sel epitel endometrium. Tebal endometrium pada fase pascamenstruasi adalah 0,5 mm. Fase ini sudah dimulai sejak fase menstruasi dan berlangsung selama empat hari.
3) Fase proliferasi
Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal 3,5 mm. Fase ini berlangsung selama sepuluh hari, kira-kira hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus menstruasi. 
4) Fase sekresi
Fase ini terjadi sesudah ovulasi yaitu pada hari ke-14 sampai hari ke-28. Pada fase ini ketebalan endometrium hampir sama dengan fase proliferasi. Bentuk kelenjar menjadi panjang, berkelok-kelok, dan mengeluarkan getah. Fase sekresi terbagi menjadi dua yaitu :
a) Fase sekresi dini
Dalam fase ini endometrium kehilangan cairan sehingga sedikit lebih tipis dari fase sebelumnya. Dapat dibedakan menjadi beberapa lapisan yaitu :
(1) Stratum basale, yaitu lapisan bagian dalam endometrium yang berbatasan dengan lapisan miometrium.
(2)  Stratum spongiosum, yaitu lapisan tengah yang berbentuk anyaman seperti spons. Pada lapisan tersebut terdapat banyak kelenjar yang melebar dan berkelok-kelok dengan sedikit stroma.
(3)  Stratum kompaktum, yaitu lapisan bagian atas yang bersifat padat. Terdapat saluran kelenjar yang sempit, lumen yang berisi secret, dan stroma yang edema.
b) Fase sekresi lanjut 
Ketebalan endometrium dalam fase ini adalah 5-6 mm. Endometrium banyak mengandung pembuluh darah yang berkelok-kelok. Fase ini sangat ideal untuk nutrisi dan perkembangan ovum (Wiknjosastro dkk, 2007). 
[ Read More ]

Hipertensi | Hipertensi Primer

A. Hipertensi
a. Definisi
Merupakan suatu keadaan di mana tekanan arteri tinggi, berbagai kriteria sebagai batasannya telah diajukan berkisar dari tekanan sistolik 140 – 200 mmHg dan tekanan diastolik 90- 110 mmHg (Dorland, 2007). Hipertensi primer atau hipertensi essensial merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya (Anggraini dkk, 2009). Pada beberapa pasien hipertensi primer terdapat kecenderungan herediter yang kuat (Guyton and Hall, 2008).
b. Perjalanan penyakit
Perjalanan penyakit hipertensi primer sangat perlahan. Penderita hipertensi primer biasanya tidak menunjukkan gejala selama bertahun- tahun sampai terjadi kerusakan organ yang bermakna. Bila terdapat gejala biasanya non spesifik seperti sakit kepala. Patogenesis terjadinya hipertensi primer sangat kompleks dengan interaksi dari berbagai variabel. Kemungkinan terdapat predisposisi genetik (Brown, 2007).
Pada hipertensi primer yang baru mulai biasanya curah jantung normal atau sedikit meningkat dan resistensi perifer normal. Pada tahap lanjut hipertensi primer, curah jantung menurun dan resistensi perifer meningkat (Gray et al., 2002).
c. Faktor risiko
Faktor risiko yang relevan terhadap mekanisme terjadinya hipertensi primer adalah :
1) Genetik
Hipertensi primer bersifat diturunkan atau bersifat genetik. Individu dengan riwayat keluarga hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi primer daripada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi.
2) Jenis kelamin
Hipertensi primer lebih jarang ditemukan pada perempuan pra menopause dibanding pria karena pengaruh hormon. Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause (Thomas, 2007).
3) Usia
Insidensi hipertensi primer meningkat seiring dengan pertambahan usia. 50-60 % pasien dengan umur lebih dari 60 tahun memiliki tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg.
4) Obesitas
Obesitas dapat meningkatkan kejadian hipertensi primer. Hal ini disebabkan lemak dapat menimbulkan sumbatan pada pembuluh darah sehingga dapat meningkatkan tekanan darah (Anggraini dkk., 2009).
5) Asupan garam
Asupan garam yang tinggi dapat meningkatkan sekresi hormon natriuretik. Hormon tersebut menghambat aktivitas sel pompa natrium dan mempunyai efek penekanan pada sistem pengeluaran natrium sehingga terjadi peningkatan volume plasma yang mengakibatkan kenaikan tekanan darah.
6) Hiperaktivitas simpatis
Pada hipertensi primer, sekresi katekolamin yang meningkat akan memacu produksi renin menyebabkan konstriksi arteriol dan vena serta meningkatkan curah jantung (Gray, et al., 2002).
d. Diagnosis
Diagnosis hipertensi primer dapat dilakukan dengan beberapa cara meliputi:
1) Anamnesis
2) Pemeriksaan fisik lengkap, terutama pemeriksaan tekanan darah.
3) Pemeriksaan penunjang meliputi tes urinalisis, pemeriksaan kimia darah (untuk mengetahui kadar potassium, sodium, creatinin, High Density Lipoprotein (HDL), Low Density Lipoprotein (LDL), glukosa). 
4) Pemeriksaan EKG (Carretero, 2000).
e. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan hipertensi primer bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas, juga untuk mencapai tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg. Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan perubahan gaya hidup seperti olahraga dan diet rendah garam. Namun apabila perubahan gaya hidup kurang memadai untuk mencapai tekanan darah yang diharapkan maka dapat dilakukan pemberian diuretika, inhibitor ACE (angiotensin- converting- enzim), penyekat reseptor beta- adrenergik, dan penyekat saluran kalsium (Brown, 2007).
[ Read More ]
Senin, 19 Desember 2011

Askep pada Ibu Hamil Trimester 1



Untuk Mendownload versi Word silahkan Clik disini Mendownload
[ Read More ]

SAP Pre Eklamsia dan Eklamsia



Untuk mendownload versi Word silahkan klik disini Download
[ Read More ]
 
 

Hair Styles

Followers

About Me